Ririn Warsiti: Penguasaan Bahasa Inggris Pelajar Kepri Memprihatinkan

Anggota Komisi IV DPRD Kepri Ririn Warsiti yang membidangi pendidikan

BATAM | PELITAKEPRI.COM – Penguasaan bahasa Inggris pelajar sekolah menengah di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dinilai masih jauh dari memadai. Data Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 menunjukkan nilai rata-rata Bahasa Inggris pelajar Kepri berada di angka 26,85, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional 37,43. Capaian tersebut menempatkan Bahasa Inggris sebagai salah satu mata pelajaran dengan performa terendah di Kepri.

Anggota Komisi IV DPRD Kepri yang membidangi pendidikan, Ririn Warsiti, mengatakan hasil tersebut menjadi alarm serius bagi kualitas pendidikan daerah. Menurut dia, kemampuan bahasa Inggris kini menjadi kompetensi dasar yang menentukan akses pelajar terhadap pendidikan tinggi diluar negeri dan peluang beasiswa global.

Baca Juga :  Pimpinan DPRD Kepri dan Gubernur Tandatangani Nota Kesepakatan KUPA dan PPAS APBD-P Tahun Anggaran 2024 

Ririn menilai, rendahnya capaian tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya metode pembelajaran yang masih berorientasi pada teori dan hafalan, minimnya praktik berbahasa dalam proses belajar, serta keterbatasan kualitas dan pemerataan guru bahasa Inggris. Selain itu, rendahnya paparan bahasa Inggris di lingkungan sosial membuat siswa sulit mengembangkan kemampuan berbahasa secara alami.

“Kita terlalu lama mengajarkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran, bukan sebagai keterampilan komunikasi,” kata Ririn.

Ia mengingatkan, dampak dari lemahnya penguasaan bahasa Inggris tidak hanya dirasakan saat di bangku sekolah. Banyak perguruan tinggi dan lembaga pemberi beasiswa luar negeri mensyaratkan skor kemampuan bahasa Inggris tertentu sebagai prasyarat utama seleksi.

Baca Juga :  Warga Bukit Raya Tanjungpinang Terima Mobil Ambulance dari Ketua DPRD Kepri dan Gubernur

Komisi IV DPRD Kepri mendorong pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pembelajaran bahasa Inggris, termasuk peningkatan kompetensi guru, penerapan metode pembelajaran yang lebih komunikatif, serta penguatan program pendukung di sekolah.

“Tanpa perbaikan yang serius dan terarah, Kepri berisiko tertinggal dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat nasional dan global,” ujar Ririn.