Tidak Tertahan Lajunya Angin

Tidak Tertahan Lajunya Angin

Siah (65) seorang Ibu yang hidup seorang diri di sebuah desa. Dia kesehariannya bekerja bertani di sawah untuk menanam padi. Diumurnya yang sudah ujur dia tetap berusaha melakukan rutinitasnya sebagai petani disetiap harinya, maklum ibu Siah di masa mudanya orang yang paling rajin di desa itu, menurut penilain satu desanya.

Setiap harinya, dari jam 6 pagi ibu Siah sudah berkemas untuk mempersiapkan bekal di sawah, seperti nasi, air putih dan kopi di termos pemanasnya.

Saat barang-barangnya dikemas, diapun bergegas melangkahkan kakinya dari rumah menuju kesawah dengan tongkatnya yang berjarak satu kilomoter mengikuti jalan aspal.

Matanya yang sudah mulai rabun dari jarak jauh, sesekali orang yang menegornya tidak lagi dia kenal.

Diumurnya yang sudah ujur sedesanya pun melarangnya untuk kesawah. Dia pun tidak begitu peduli, karena sudah terbiasa melakukan hal itu.

Ibu Siah saat berjalan sudah mulai sesak dan ditambah suka batuk berdahak, dia termasuk perokok.

Ibu Siah tetap semangat melakukan pekerjaannya, meskipun tenaganya sudah tergerus dimakan usianya.

Pagi itu saat disawah diapun duduk beristirahat, dia pun mengusap keringatnya yang membasahi keningnya. Dia pun merpikir sejenak, sambil terbayang dikala anak-anaknya bermain disawah dan berlari-lari dipematang sawah. Dia pun mengomel dan sekejap dia tersadar, air matanya pun membasahi pipinya. “Ini sudah berlalu,” kata hatinya.

Dia pun semakin sering sakit dan semakin sering batuk, batuknya pun semakin parah.

Beberapa hari bu Siah pun tidak pernah terlihat lewat untuk pergi kesawah. Beberapa se desanya mencarinya. Ternyata rasa penasaran sedesanya terjawab. Seorang tetangganya menggedor-gedor pintunya, ibu Siah pun tak merespon. Bersama warga desa mencoba mendobrak pintunya, ternyata Ibu Siah sudah meninggal didekat perapian dirumahnya.

Setelah warga mengetahui, bu Siah sudah tiada. Mencoba menghubungi anak-anaknya.

Anak-anaknya pun datang untuk dan membuat suata acara sebagaimana tradisi Batak yang sedikit mewah.

Seusai acara pemakaman siap, semua keluarga berkumpul dirumah. Dan anak-anaknya pun membereskan barang-barang ibunya, karena rumah itu sedikit tak terurus.

Saat mereka mengemas barang-barang ibunya. Ada sebuah surat yang mereka temukan, yang dibungkus dengan rapi. Ibu Siah pun didalam isi suratnya, menuangkan kesendirian yang dialaminya.

“Anak-anaku, ternyata perjalanan hidup ini sepertinya tidak terasa beralalu. Awal kami menikah dengan bapamu, kami mendambakan kehadiran anak yang untuk membahagiankan kami, yaitu kalian buah hati kami.

Masih saya ingat itu diwaktu kalian masih kanak-kanak meramaikan rumah ini, ibu sedikit pengomel ketika kalian bising dan berantam dirumah dan kini tidak bisa ibu rasakan, kalian sudah jauh.

Setelah tamat sekolah kalian satu persatu merantau, saya sadari karena kalian akan meraih cita-citanya masing-masing.

Setelah bapamu pergi menghadap pencipta, ibu pun sendiri. Anaku waktu itu kalian memang mengajaku kerumahmu, karena aku masih kuat saya memilih dirumah ini. Namun sudah lama kalian tidak menanya kabar ibumu ini, dan aku selalu mendoakan kalian semua anaku semoga tetap sehat. Dan apabila saya pergi menemui bapamu, anak-anaku ini aku titip sawah kita (dengan penjelasan pembagian tanah untuk anak-anaknya). Anaku-anaku tetap kompak dan tetap menjaga tali persaudaraan katanya mengakhiri suratnya”.

Usai membacanya, tangis ke tujuh anak-anaknya pun pecah, menyesalinya atas apa yang mereka perbuat yang telah melupakan ibunya. Namun kasih ibunya sepanjang masa.

Nama: Takdir Siringo
Peserta: KMO BASIC BATCH 36

banner 468x60

No Responses

Comments are closed.

error: Content is protected !!